JANGAN MAU JADI ORANG “BIASA”


Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna, karena manusia dibekali dengan banyak karunia, yaitu akal, hati, dan nafsu. Inilah yang selalu membedakan manusia dengan makhluk Tuhan yang lain, seperti hewan, tumbuhan, malaikat, dan jin. Namun pada suatu kondisi tertentu, seorang manusia bisa menjadi lebih mulia daripada malaikat, dan di lain kondisi juga bisa menjadi lebih hina daripada hewan. Tatkala hati berkuasa atas nafsu, maka pada saat itulah manusia dikatakan lebih mulia daripada malaikat. Sebaliknya, tatkala hati dikuasai oleh nafsu, maka pada saat itulah manusia menjadi lebih hina daripada hewan.

Setiap manusia pasti memiliki kekurangan diri. Ini adalah hal yang wajar, karena Tuhan menjadikan manusia sebagai makhluk yang pada dasarnya cenderung bersalah. Hal ini bukanlah kekurangan manusia, akan tetapi ia adalah salah satu bagian dari diri manusia yang menjadikan ia sempurna. Manusia yang tidak pernah bersalah dalam hidupnya, berarti ia bukan manusia, melainkan malaikat. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa belajar dari setiap kesalahan dan meminta ampun kepada Tuhan YME  atas kesalahan yang kita perbuat. Kekurangan diri ini juga menunjukkan bahwa setiap manusia tidak akan pernah bisa hidup sendiri tanpa ada interaksi dengan manusia yang lain. Oleh karena itulah, manusia sering disebut sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.

Tuhan memberikan kesempatan yang sama kepada semua manusia dalam meraih kesuksesan dalam hidupnya. Setiap orang memiliki waktu yang sama dalam mengarungi hidupnya, yaitu 24 jam sehari. Sayangnya, hanya sedikit orang yang dapat memanfaatkan waktu 24 jam ini dengan baik. Terkadang orang beralasan bahwa hidup ini tidak adil, atau bahkan ada yang menyalahkan Tuhan dan men-judge bahwa Tuhan tidak adil dan pilih-pilih kasih. Padahal sebenarnya semua kesalahan ada pada dirinya sendiri. Rasa malas yang mendarah daging di dalam hatinya telah menjadikannya orang yang bodoh dan menderita hidupnya. Padahal, jika kita mau belajar dari kisah-kisah orang sukses, justru kebanyakan mereka lahir dari berbagai penderitaan dan kemiskinan. Tetapi, mereka memiliki keinginan dan kemampuan untuk menyingkirkan rasa malasnya, sehingga mereka bisa meraih kesuksesan yang mungkin tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Kita bisa belajar dari seorang Yusuf Mansur yang dahulu pernah masuk penjara karena terlilit hutang miliaran rupiah. Hingga akhirnya setelah ia bebas, ia memulai usahanya dari nol lagi, yaitu dengan berdagang es keliling. Namun, ada satu hal istimewa yang membawanya sukses, yaitu ia rajin sekali bersedekah, sekalipun dalam kondisi-kondisi sulit dan terlilit. Kita juga bisa belajar dari seorang Abdullah Gymnastiar yang dahulu ingin sekali menjadi tentara, tetapi gagal. Ia dan istrinya dahulunya bukanlah orang kaya seperti sekarang ini, mereka bahkan sempat berjualan bakso untuk mendapatkan penghasilan, hingga akhirnya usaha mereka itu tutup karena sang istri ternyata tidak tahan dengan aroma bakso yang menyengat. Namun, mereka berdua tidak pernah putus asa, usaha lainpun dilakukan, dan yang terpenting, ternyata mereka berdua sangat rajin beribadah dan memohon do’a kepada Allah SWT agar diberikan limpahan rezeki yang halal. Lalu, apakah kita masih pantas menyalahkan Tuhan? Padahal sudah jelas bahwa kita sendirilah yang terjebak oleh rasa malas, sehingga enggan berusaha untuk meraih kesuksesan.

Satu hal yang sekarang sangat saya soroti sekaligus sangat saya sayangkan, yaitu kondisi remaja-remaja Indonesia saat ini, khususnya kalangan pelajar sekolah dan mahasiswa. Sebagai kaum terpelajar, ternyata kita belum mampu menjadi agen perubahan di negeri ini. Bayangkan saja misalnya, di kampus kita (IT Telkom), berapa banyak mahasiswa yang terbiasa bangun pagi? Berapa banyak mahasiswa yang senang membaca buku? Berapa banyak mahasiswa yang rajin beribadah? Berapa banyak mahasiswa yang hidupnya bersih dan disiplin? Berapa banyak mahasiswa yang benar-benar mandiri? Berapa banyak mahasiswa yang aktif berkegiatan di kampus? Rasanya sedikit sekali jika kita hitung. Entah kenapa, saya merasa bahwa semakin tahun, mahasiswa ini semakin manja dan tidak qualified. Diberi tekanan sedikit, langsung stress dan banyak mengeluh.

Bahkan jika ditanya tentang cita-cita dan tujuan hidup, saya yakin hanya segelintir mahasiswa saja yang dapat menjawabnya. Sebagian besar merasa bingung dan biasanya hanya bisa mengatakan, “liat aja nantilah…”. Sebuah perkataan yang tidak sepantasnya dikatakan oleh seorang anak muda. Terkadang kita tidak berani untuk bermimpi besar. Kita takut atau merasa tidak percaya diri jika harus merencanakan masa depan yang hebat. Sungguh aneh dan memalukan. Masa’ disuruh bermimpi saja tidak berani, apalagi mau sukses. Banyak yang berdalih, “ah, kemampuan coding saya tidak terlalu bagus, mana mungkin saya bisa menjadi software engineer di perusahaan besar”. Inilah yang saya katakan tadi bahwa kita ini terkadang tidak mau percaya diri. Ingat, bung, Tuhan itu tidak pernah tidur. Dia selalu memperhatikan setiap hambaNya, dan Dia Maha Tahu apa-apa yang terbaik bagi hambaNya. Boleh jadi sekarang kita adalah orang yang lemah dalam bidang pemrograman, tapi yakinlah jika kita mau berusaha dan berdo’a, Insya Allah secara bertahap kita akan mampu mengejar mimpi yang kita inginkan. Atau boleh jadi sekarang kita adalah orang yang kurang mampu, namun yakinlah bahwa rezeki Allah itu Maha Luas. Pasti selalu ada jalan untuk sukses.

Sebagai mahasiswa yang memiliki tanggung jawab besar untuk membangun bangsa, kita tidak boleh merencanakan hidup yang biasa-biasa saja. Kita harus mau mebuat rencana hidup yang luar biasa, bukan sekedar impian biasa yang mungkin semua orang bisa meraihnya dengan mudah. Kita semua pasti hafal dengan pepatah yang mengatakan, “gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”. Apa maksudnya? Apakah kita harus pergi dulu ke ruang angkasa dan mengikatkan catatan tentang cita-cita kita di sana? Yang jelas tidak seperti itu. Maksud pepatah itu adalah, kita harus mempunyai target setinggi mungkin dalam hidup ini, kalaupun pada akhirnya nanti kita tidak mampu meraih target tertinggi itu, setidaknya kita tidak akan berada jauh dari target tertinggi itu.

Kampus memberikan fasilitas yang sangat banyak bagi kita untuk mengembangkan segenap potensi diri. Ingat kawan, setiap orang pasti memiliki potensi diri masing-masing. Hanya terkadang, potensi itu terkubur karena kita enggan atau malas untuk menggalinya dan memunculkannya. Semua mahasiswa pasti mendapatkan perkuliahan di kampusnya. Tapi kita akan sangat rugi jika hanya kuliah saja di kampus, padahal di sekeliling kita banyak sekali sarana yang bisa kita manfaatkan untuk mecuatkan potensi diri dan menemukan jati diri kita. Kenapa kita tidak mau memanfaatkan organisasi kemahasiswaan di kampus? Kenapa kita tidak mau memanfaatkan berbagai macam laboratorium kampus untuk belajar lebih banyak? Kenapa kita juga enggan memanfaatkan fasilitas olahraga dan keagamaan yang ada di kampus? Padahal kita sudah membayar mahal untuk itu semua. Sayang sekali jika masa mahasiswa kita hanya dihabiskan di kamar kos saja, tidur, nge­-game, tidur lagi, dst. Mahasiswa juga tidak seharusnya hanya berpikir bagaimana memperoleh IPK yang terbaik, tapi ia juga harus mampu memiliki softskill yang baik. Tidak sedikit mahasiswa cumlaude yang ditolak dari perusahaan hanya gara-gara kemampuan organisasi dan komunikasi yang kurang baik. Sebaliknya, seorang aktivis mahasiswa juga tidak boleh menjadikan kuliah sebagai kegiatan “sampingan”, sehingga tidak memikirkan bagaimana caranya memperoleh prestasi akademik yang bagus. Untuk apa softskill jika tidak didukung oleh hardskill.

Nah, marilah sama-sama kita mengubah paradigma (pola pikir) kita bahwa kita adalah manusia hebat yang memiliki masa depan yang luar biasa. Mulai sekarang, marilah kita tanamkan di hati kita masing-masing bahwa kita mampu untuk mengukir sejarah hidup kita dengan berbagai kesuksesan dan prestasi hidup yang bagus, baik di mata manusia, terlebih lagi prestasi di hadapan Allah SWT. Sudah banyak orang-orang “biasa” di muka bumi ini, jika kita hanya menjadi manusia seperti mereka, lantas sayang sekali karunia yang diberikan Tuhan YME karena tidak kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya.

    • Aldo Al Fakhr
    • March 8th, 2010

    SIAP PAK KORSAD!!!

    keep writing till syahid…

      • Muhammad Fachrie
      • March 9th, 2010

      oke pakcik!!!!😀
      always read and write!

  1. Reblogged this on TINTA PELANGI and commented:
    ayo berusaha.. kita garda terdepan lhoo!! #fighting

    • Mohamad Fahmi
    • April 12th, 2014

    Entah kenapa saya senang sekali membaca artikel artikel di blog ini, renyah dan sangat motivasi.

    Salam kenal kawan.🙂

      • Muhammad Fachrie
      • October 17th, 2015

      Terima kasih, Mas Mohamad Fahmi. Maaf baru dibales sekarang🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: