Belajarlah… apa yang menghalangimu untuk belajar?


Image

Assalaamu’alaykum…

Mungkin hanya perasaan saya saja, melihat begitu banyak pelajar, terutama mahasiswa, sepertinya belum mempunyai sense yang besar untuk giat belajar, minimal sekedar membaca buku. Rasanya jika melihat berbagai kenyataan di sana-sini, perasaan saya ini sepertinya benar adanya. Ketika melihat sebagian mahasiswa yang saya ajar, sepertinya mereka tidak ada rasa ingin menjadi orang pintar. Pada sebagian mereka, saya tidak melihat kekuatan atau semangat untuk menjadikan diri mereka lebih baik dengan belajar. Miris memang melihatnya. Ketika tugas diberikan, yang terlontar dari lisan mereka hanyalah keluhan yang menurut saya itu adalah bagian dari bentuk ketidakseriusan mereka dalam menjalani perkuliahan.

Tapi mungkin ini juga menjadi PR besar bagi para pendidik untuk memotivasi mahasiswa/murid yang mereka ajar, sebab memang pada hakikatnya, pendidikan itu meliputi pengajaran dan pembinaan. Ya, pembinaan, tidak hanya pengajaran. Mungkin itu yang sempat saya tangkap dari sebuah film fenomenal yang menginspirasi anak muda bangsa ini, Laskar Pelangi. Bagaimana seharusnya seorang guru menjadi teladan bagi murid-murid yang diajarnya. 

Saya teringat dengan pesan salah seorang ulama yang telah mendahului kita, K.H. Zainuddin MZ. Beliau sempat bertutur pada salah satu ceramahnya, “Kalo dulu, guru sama muridnya itu saling mendo’akan. Guru mendo’akan muridnya, dan muridnya pun mendo’akan gurunya. Oleh karena itu, gurunya menjadi ikhlas menyampaikan ilmu kepada murid-muridnya, dan muridnya pun ikhlas menerima ilmu dari gurunya”.

Saya juga merasa bahwa sepertinya karakter-karakter remaja kita saat ini yang cenderung manja, gandrung dengan hedonisme, dan malas untuk belajar, merupakan akibat dari ‘kesalahan’ orang tua dalam mendidik anaknya. Sekali lagi, ini hanya perasaan saya saja, mungkin bisa salah. Saya berkata seperti ini karena di beberapa kesempatan saya sering melihat bagaimana orang tua sangat senang mengakrabkan anak-anaknya dengan gemerlap hidup yang melenakan, memberikan berbagai macam kemewahan kepada anak yang (lagi-lagi) menurut saya belum pantas menerimanya. Bahkan, ada hal yang lebih parah dari itu, tidak ada bekal agama yang diberikan oleh kedua orang tua kepada anak-anaknya. Kalaupun ada, itu pun mungkin bukan disampaikan dari lisan orang tuanya, tapi hanya melalui pelajaran agama di sekolah yang hanya diberikan selama dua jam dalam satu minggu.

Yah, barangkali perjalanan bangsa ini untuk bangkit memang harus melalui rintangan-rintangan seperti ini. Tapi saya yakin, Indonesia suatu saat nanti akan dipenuhi oleh anak-anak muda yang punya kualitas yang baik dari sisi akhlaq dan keilmuan. Semoga.

  1. banyaknya contoh yang tak baik terjadi di masyarakat banyak berperan didalam niat untuk belajar, seperti misalnya seorang yang tidak punya prestasi dimasa sekolah namun karena punya uang untuk menyuap, sehingga menjadi seorang politikus, ataupun menjadi seorang pemimpin di negeri, sehingga rasa malas belajar itu semakin menjadi

      • Muhammad Fachrie
      • March 28th, 2012

      yup, betul mas. di sanalah sebenarnya peran orang tua dan guru di sekolah untuk mengarahkan anak2nya.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: